Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Puisi Muhammad Alfariezie

Gambar
Puisi Muhammad Alfariezie Kalian kuajak ke mari untuk menanam Mengapa asyik main layang-layang? Rupanya masih ingin mencicip kencing kuda Kau masih kangen bersama tahi Kemarilah bocah-bocah Biar kusadarkan dirimu bahwa bintang-bintang rembulan Kemarilah bocah palsu Kuajari kau mengorek tahi kucing Letakkan tanganmu di sini dan tahan bila kuinjak-injak Taruh kepalamu di sini dan jangan menjerit bila kupenggal Dan tak ada kata jangan dalam hidupku Maka kalian pasti merasakan yang namanya di atas pacatitin Segala keanehan pasti akan kalian lihat Dan rasanya lebih dari menelan tahi kucing Kalian sering kan mencicipi? Ya seperti itulah rasanya Aku hanya menduga-duga karena tak pernah seperti kalian Mengapa pula kalian tak meniru gaya berjalanku yang atletis ini Justru di malam hari kalian bukannya tidur malah oh oh han Dan sekarang tidak ada lagi waktu bertobat Kalian kuanggap lebih dari cacing epdermis Ingatlah bocah-bocah benaul Setelah as...

Sindrome Sosial

Gambar
Antonio Montana Mungkin saat ini Indonesia sedang mengalami yang namanya sindrome ambivalen alias sedang terserang penyakit masyarakat modern dan sosial. Masyarakat modern dan sosial Indonesia memang mengalami kemajuan.  Nyaris rata-rata orang di Indonesia mampu mengoperasikan alat-alat teknologi semisal laptop dan handpone pintar. Namun hal ini kumaksud Sindrome bukan vitamin atau apalah itu hal yang positif. Kebanyakan dari kita hanya menjadi pengguna tanpa berfikir manfaatnya. Misal ibu-ibu saat ini bisa bertemu dengan kawan-kawan semasa SMA dengan mudah karena ada aplikasi yaitu Watssup tapi bukan tak mungkin ini menjadi ajang maksiat bukan silahturahmi. Ini menjadi ajang kumpul-kumpul yang tak bermanfaat semisal kumpul-kumpul di kafe mahal sehingga lupa pada keutuhan rumah tangganya. Lupa pada adat istiadat dan agamanya. Ya ini karena sindrome teknologi dan sosial yang nyeleneh yang meniru-niru gaya eropa. Gaya yang ditawarkan kapitalisme. Ini Hegemoni. Sengaja dicip...
“Sebuah bangsa besar yang memunggungi buku atau tanpa tradisi literasi hanya akan menjadi bangsa kelas teri yaitu, perundung, pemaki dan mudah terprovosi tanpa keluasan hati dan imajinasi. Itulah hal yang membuat saya sulit untuk tidur, ibu.” Ungkapan ini adalah keluhan Najwa Shihab di depan kepala perpustakaan, deputi dan ketua panitia pada tahun 2016. Nana, panggilan akrabnya. Berbicara sebagai duta baca Indonesia tahun 2016 sampai 2020. Di depan perempuan-perempuan pengelola perpustakaan Nasional, Duta Baca Indonesia mengungkapkan kekhawatirannya perihal minat baca di Indonesia. Dari data yang saya dapat sungguh menyesakkan, kata Nana. Menurut data OISD budaya membaca masyarakat Indonesia adalah yang terendah di antara 52 di Asia sedangkan UNESCO merilis bahwa di Eropa anak-anak membaca 25 buku pertahun. Di jepang dan Singapura, kemampuan membaca anak-anak di sana dalam satu taun mampu membaca 17 buku. Ini berbanding berbalik dengan yang ada pada negara kita. Indonesia Nol. Dar...